10 Museum di Surabaya yang Bisa Dikunjungi Bareng Anak, Belajar Sejarah Jadi Nggak Membosankan
“Ke museum?”
Anak mungkin langsung membayangkan ruangan sunyi, benda tua di balik kaca, lalu orang tua membaca tulisan panjang sambil berkata:
“Ayo dibaca, ini penting.”
Padahal belajar sejarah tidak harus seperti menghafalkan buku pelajaran.
Di Surabaya, anak bisa masuk ke kapal selam sungguhan, melihat jejak Pertempuran 10 November, mengenal perjalanan pendidikan dari masa ke masa, menemukan cerita atlet, sampai mengunjungi rumah tempat tokoh-tokoh pergerakan pernah hidup.
Kuncinya bukan mengajak anak melihat semua koleksi.
Pilih beberapa cerita yang dekat dengan rasa ingin tahu mereka.
Kalau sedang mencari museum di Surabaya yang cocok dikunjungi bersama anak, berikut 10 tempat yang bisa masuk daftar.
Catatan sebelum berangkat: jam buka, harga tiket, sistem reservasi, fasilitas, serta aturan kunjungan dapat berubah. Untuk museum yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya, cek informasi terbaru melalui kanal resmi Musea dan Tiket Wisata Surabaya sebelum berangkat.
Ini juga penting di baca : https://earlybirdcatering.id/anak-bosan-makan-itu-itu-saja-9-cara-membuat-menu-keluarga-lebih-bervariasi/
1. Museum Sepuluh Nopember
Kalau ingin mulai mengenalkan kenapa Surabaya disebut Kota Pahlawan, ini salah satu tempat paling masuk akal.
Museum Sepuluh Nopember berada di kawasan Tugu Pahlawan dan dibangun untuk melengkapi cerita mengenai Pertempuran 10 November 1945. Museum ini berada di bawah permukaan tanah dan memiliki koleksi serta penyajian seperti diorama yang membantu pengunjung memahami jalannya peristiwa.
Untuk anak, jangan langsung menjelaskan seluruh kronologi perang.
Mulai dengan pertanyaan:
“Menurutmu kenapa Surabaya punya Tugu Pahlawan?”
Lalu biarkan koleksi museum membantu menjawabnya.
Yang menarik untuk anak
Anak bisa melihat sejarah melalui benda, foto, diorama, dan penyajian visual sehingga cerita perjuangan tidak hanya berupa tanggal yang harus dihafalkan.
Situs resmi Musea juga mencantumkan fasilitas Kidzone di museum ini.
Cocok untuk: anak usia sekolah dasar ke atas yang mulai belajar sejarah Indonesia.
Lokasi: kawasan Tugu Pahlawan, Jalan Pahlawan, Surabaya.
jangan lewatkan tulisan ini : https://earlybirdcatering.id/cara-mengajarkan-anak-makan-sendiri/
2. Museum Pendidikan Surabaya
Pernahkah anak bertanya:
“Zaman dulu sekolahnya kayak gimana?”
Nah, pertanyaan itu bisa menjadi pintu masuk.
Museum Pendidikan Surabaya berada di Jalan Genteng Kali dan menempati bekas Sekolah Taman Siswa. Koleksinya membahas perjalanan pendidikan dari masa praaksara, klasik, kolonial hingga kemerdekaan.
Alih-alih menjelaskan sejarah pendidikan panjang lebar, ajak anak membandingkan:
Sekolah zaman dulu dengan sekolah sekarang.
Apa yang berubah?
Buku pelajarannya bagaimana?
Cara belajarnya bagaimana?
Benda apa yang sudah tidak mereka temui di sekolah modern?
Bisa dibuat seperti permainan
Berikan tantangan:
“Cari tiga benda sekolah zaman dulu yang sudah jarang dipakai sekarang.”
Mendadak kunjungan museum berubah menjadi permainan mencari petunjuk.
Cocok untuk: anak SD sampai remaja.
Lokasi: Jalan Genteng Kali No. 10, Surabaya.
kunjungi artikel menarik ini : https://earlybirdcatering.id/anak-susah-makan-mengenalkan-makanan-baru/
3. Museum Surabaya di Gedung Siola
Kalau anak tinggal di Surabaya, ada satu pertanyaan menarik:
“Surabaya zaman dulu seperti apa?”
Museum Surabaya berada di lantai satu Gedung Siola, Jalan Tunjungan. Museum ini menyimpan informasi dan koleksi mengenai sejarah serta perkembangan Kota Surabaya. Gedung Siola sendiri juga merupakan bangunan bersejarah.
Ini cocok untuk mengenalkan konsep bahwa kota juga berubah.
Jalan berubah.
Transportasi berubah.
Pelayanan publik berubah.
Cara orang bekerja berubah.
Tapi beberapa bangunan dan jejak sejarah masih bisa ditemukan.
Setelah museum, lanjut melihat kota
Karena lokasinya di kawasan Tunjungan, kunjungan bisa dilanjutkan dengan berjalan-jalan sambil memperhatikan bangunan di sekitar.
Jadi anak tidak hanya melihat Surabaya lama di dalam museum.
Mereka kemudian keluar dan melihat Surabaya hari ini.
Cocok untuk: keluarga yang ingin mengenalkan sejarah Kota Surabaya secara umum.
Lokasi: Gedung Siola lantai 1, Jalan Tunjungan No. 1–3, Surabaya.
4. Museum H.O.S. Tjokroaminoto
Museum ini berbeda.
Bukan gedung museum besar.
Kita masuk ke sebuah rumah.
Rumah di Jalan Peneleh Gang VII ini pernah menjadi kediaman H.O.S. Tjokroaminoto dan tempat bertemunya sejumlah tokoh pergerakan. Situs resmi museum mencatat rumah ini memiliki lebih dari seratus koleksi terkait kehidupan dan sejarah H.O.S. Tjokroaminoto.
Untuk anak yang lebih besar, tempat seperti ini bisa membantu menjelaskan sesuatu yang kadang sulit terasa nyata:
tokoh sejarah juga pernah hidup di rumah biasa, berbicara, belajar, dan bertukar gagasan seperti manusia lainnya.
Pertanyaan yang bisa diberikan ke anak
“Kalau rumah ini bisa cerita, kira-kira percakapan apa saja yang pernah terjadi di sini?”
Pertanyaan seperti itu sering lebih menarik daripada meminta anak menghafal nama tokoh.
Cocok untuk: anak SD kelas besar, SMP, remaja, dan orang tua yang menyukai sejarah pergerakan nasional.
Lokasi: Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya.
5. Museum dr. Soetomo
Nama dr. Soetomo sering muncul di buku sejarah.
Tapi siapa sebenarnya orangnya?
Museum dr. Soetomo berada di kompleks Gedung Nasional Indonesia di Jalan Bubutan. Museum ini membahas perjalanan dr. Soetomo, tokoh pergerakan dan salah satu pendiri Boedi Oetomo.
Untuk anak, pendekatannya bisa dibuat lebih personal.
Jangan hanya:
“Ini tokoh Kebangkitan Nasional.”
Coba tanyakan:
“Menurutmu kenapa orang zaman dulu membuat organisasi untuk memperjuangkan perubahan?”
Dari situ orang tua bisa menjelaskan sejarah dengan bahasa yang sesuai usia anak.
Museum tidak lagi menjadi tempat menghafal nama.
Tapi tempat mencari tahu kenapa seseorang melakukan sesuatu.
Cocok untuk: anak usia sekolah yang sudah mulai mengenal sejarah nasional.
Lokasi: Jalan Bubutan No. 85–87, Surabaya.
6. Museum W.R. Soepratman
Anak pasti pernah menyanyikan Indonesia Raya.
Tapi apakah mereka tahu siapa penciptanya?
Museum W.R. Soepratman berada di rumah tempat W.R. Soepratman tinggal pada masa akhir hidupnya. Koleksinya membantu pengunjung mengenal kehidupan, karya, foto, dokumen, dan jejak sang pencipta lagu kebangsaan; salah satu benda yang ditampilkan adalah replika biola.
Ini salah satu museum yang enak untuk dikunjungi dengan satu tema sederhana:
“Hari ini kita mau cari tahu siapa orang di balik lagu Indonesia Raya.”
Anak sudah mengenal lagunya.
Museum membantu mereka mengenal manusianya.
Bahkan pada 2026, museum ini masih digunakan untuk kegiatan edukasi siswa, termasuk kunjungan anak TK melalui program Educity.
Cocok untuk: anak dari usia dini hingga remaja, dengan kedalaman cerita disesuaikan umur.
Lokasi: Jalan Mangga No. 21, Surabaya.
7. Rumah Lahir Bung Karno
Banyak anak mengenal Soekarno sebagai:
Presiden pertama Indonesia.
Tapi jauh sebelum menjadi presiden, beliau juga pernah menjadi bayi dan anak kecil.
Nah, sudut itu justru menarik untuk anak.
Rumah Lahir Bung Karno berada di Jalan Pandean IV, kawasan Peneleh. Destinasi ini menceritakan jejak keluarga dan awal kehidupan Soekarno, serta dilengkapi pendekatan teknologi seperti ruang augmented reality dan pemutaran film.
Rumah ini dibuka untuk umum sebagai museum pada 2023 setelah melalui proses penelusuran dan pelestarian.
Kenapa menarik untuk anak?
Karena sejarah terasa lebih dekat ketika anak memahami bahwa tokoh besar juga punya masa kecil.
Coba tanyakan:
“Kalau waktu kecil Bung Karno tahu suatu hari akan jadi presiden, kira-kira percaya nggak ya?”
Obrolannya bisa panjang ke mana-mana.
Dan justru itu bagus.
Cocok untuk: anak SD ke atas dan keluarga yang sedang menjelajahi kawasan sejarah Peneleh.
Lokasi: Jalan Pandean IV No. 40, Peneleh, Surabaya.
8. Museum Olahraga Surabaya
Kalau anak langsung kehilangan minat begitu mendengar kata “sejarah”, coba jangan mulai dari perang atau politik.
Mulai dari olahraga.
Museum Olahraga Surabaya menyimpan ratusan koleksi yang berkaitan dengan atlet dan prestasi olahraga, khususnya tokoh olahraga dari Surabaya. Koleksinya mencakup medali, piala, perlengkapan, dan memorabilia olahraga.
Bahkan pada 2026 museum ini mengembangkan pengalaman edukasi melalui aktivitas olahraga tradisional seperti terompa, sehingga unsur belajar bisa dipadukan dengan pengalaman langsung.
Untuk anak yang suka sepak bola, bulu tangkis, atletik, atau olahraga lainnya, ini bisa menjadi pintu masuk yang lebih mudah.
Tanyakan:
“Kalau mau jadi atlet, menurutmu bagian paling susah apa?”
Lalu obrolkan soal latihan, kegagalan, disiplin, dan prestasi.
Ternyata museum juga bisa menjadi tempat ngobrol soal karakter.
Cocok untuk: anak aktif dan keluarga penggemar olahraga.
Lokasi: kawasan Gelora Pancasila, Jalan Indragiri, Surabaya.
9. Monumen Kapal Selam (Monkasel)
Kalau ditanya mana yang kemungkinan membuat anak spontan berkata:
“Wah!”
Monkasel punya modal kuat.
Objek utamanya adalah KRI Pasopati 410, kapal selam asli yang pernah digunakan TNI Angkatan Laut dan kini berada di daratan Surabaya. Pengunjung dapat masuk dan melihat bagian dalam kapal, termasuk ruang-ruang yang dahulu digunakan awak kapal.
Ini membuat sejarah terasa konkret.
Anak tidak hanya melihat foto kapal selam.
Mereka masuk ke dalamnya.
Jadikan kunjungan sebagai eksplorasi
Tanyakan:
“Kalau tinggal di kapal selam, tidurnya di mana?”
“Bagaimana orang bekerja di ruangan sesempit ini?”
“Kenapa kapal selam dibuat bisa berada di bawah air?”
Pertanyaan seperti ini menghubungkan sejarah dengan teknologi dan kehidupan sehari-hari.
Menurut informasi destinasi yang terverifikasi Dinas Pariwisata, Monkasel masih beroperasi sebagai atraksi wisata; situs resminya juga memuat informasi kunjungan terkini.
Cocok untuk: anak yang menyukai kendaraan, teknologi, militer, dan eksplorasi.
Lokasi: Jalan Pemuda No. 39, Surabaya.
10. Museum TNI-AL Loka Jala Crana
Kalau Monkasel membuat anak penasaran dengan kapal selam, perjalanan bisa diteruskan lebih jauh ke sejarah maritim Indonesia.
Museum TNI-AL Loka Jala Crana di Surabaya berfokus pada sejarah, perlengkapan, dan perjalanan TNI Angkatan Laut. Koleksinya antara lain berkaitan dengan peralatan serta sejarah kekuatan maritim, termasuk miniatur kapal.
Kompleksnya juga memiliki jejak edukasi astronomi melalui Planetarium yang dibangun bersama museum dan sejak lama digunakan sebagai sarana pembelajaran mengenai benda langit.
Namun karena museum berada dalam lingkungan yang berkaitan dengan institusi militer, cek terlebih dahulu mekanisme kunjungan, akses publik, jadwal, dan persyaratan terbaru sebelum membawa anak atau rombongan sekolah.
Jangan langsung datang dengan satu bus lalu baru bertanya di gerbang.
Cocok untuk: anak sekolah yang tertarik sejarah maritim, kapal, teknologi, dan TNI AL.
Kalau Cuma Punya Waktu ke 3 Museum, Pilih yang Mana?
Tidak perlu mengejar sepuluh museum sekaligus.
Malah bisa berakhir dengan anak mengingat satu hal:
“Capek.”
Pilih berdasarkan minat.
| Anak tertarik dengan… | Coba kunjungi |
|---|---|
| Perang dan pahlawan | Museum Sepuluh Nopember |
| Kehidupan sekolah zaman dulu | Museum Pendidikan |
| Sejarah Kota Surabaya | Museum Surabaya |
| Tokoh pergerakan | Museum H.O.S. Tjokroaminoto / dr. Soetomo |
| Musik | Museum W.R. Soepratman |
| Soekarno | Rumah Lahir Bung Karno |
| Olahraga | Museum Olahraga |
| Kapal dan teknologi | Monumen Kapal Selam |
| Sejarah maritim | Museum TNI-AL Loka Jala Crana |
Kalau ini kunjungan museum pertama anak, pilih berdasarkan minat anak, bukan berdasarkan museum mana yang dianggap paling penting oleh orang tua.
Anak yang terobsesi kapal kemungkinan lebih menikmati Monkasel.
Anak yang suka olahraga mungkin lebih nyambung di Museum Olahraga.
Setelah mereka tahu museum ternyata bisa menarik, baru kenalkan tema lain.
Cara Mengajak Anak ke Museum Tanpa Berubah Jadi Pelajaran Tambahan
Ini bagian penting.
Jangan sampai weekend ke museum terasa seperti:
sekolah, tapi orang tuanya yang jadi guru.
Ada beberapa cara sederhana.
Jangan paksa membaca semuanya
Panel informasi dibuat untuk dibaca.
Tapi bukan berarti semuanya wajib dibaca.
Pilih yang menarik.
Beri anak misi
Misalnya:
“Cari benda paling tua.”
“Cari benda yang menurutmu paling aneh.”
“Cari tiga benda yang sudah tidak kita pakai sekarang.”
Anak jadi aktif memperhatikan.
Biarkan anak bertanya
Kalau pertanyaannya:
“Kenapa kapal selam nggak punya jendela besar?”
jangan buru-buru kembali ke materi sejarah.
Justru ikuti rasa ingin tahunya.
Hubungkan dengan kehidupan mereka
Di Museum Pendidikan:
“Kalau sekolahmu seperti zaman dulu, betah nggak?”
Di Museum Olahraga:
“Kalau kamu jadi atlet, mau cabang apa?”
Di Monkasel:
“Bayangin tidur beberapa hari di dalam kapal ini.”
Sejarah menjadi cerita, bukan kumpulan tahun.
Jangan Terlalu Ambisius dalam Satu Hari
Surabaya memang punya banyak tempat bersejarah.
Tapi anak punya batas energi.
Untuk keluarga dengan anak kecil, satu atau dua museum yang dinikmati perlahan bisa jauh lebih berkesan daripada lima museum yang dikejar sampai sore.
Sisakan waktu untuk:
makan;
minum;
toilet;
istirahat;
dan ngobrol tentang apa yang baru dilihat.
Kalau anak masih berkata:
“Besok ke museum lain yuk.”
itu kemenangan.
Tidak perlu menunggu mereka berkata:
“Mama, saya sekarang memahami transformasi sosial-politik masyarakat kolonial Surabaya.”
Itu malah agak mencurigakan. 😄
Mau Museum Hopping di Surabaya? Susun Berdasarkan Kawasan
Beberapa museum berada relatif dekat dalam kawasan sejarah pusat Surabaya.
Misalnya, Museum H.O.S. Tjokroaminoto dan Rumah Lahir Bung Karno sama-sama berada di kawasan Peneleh, sementara Museum dr. Soetomo dan Museum Sepuluh Nopember berada di kawasan Bubutan dan sekitarnya. Museum Surabaya berada di Tunjungan.
Jadi daripada bolak-balik melintasi kota, susun perjalanan berdasarkan lokasi.
Namun jangan hanya menghitung jarak di peta.
Pertimbangkan juga:
jam operasional;
durasi kunjungan;
waktu perjalanan;
parkir atau titik turun;
waktu makan;
dan energi anak.
Untuk museum yang dikelola Pemkot, situs resmi Musea saat ini mencantumkan museum tutup pada hari Senin dan menyediakan pemesanan melalui sistem Tiket Wisata Surabaya pada berbagai destinasi. Karena aturan bisa berubah, lakukan pengecekan lagi pada hari menjelang kunjungan.
Cek informasi museum melalui Musea Surabaya
Cek reservasi melalui Tiket Wisata Surabaya
Kalau Datang Bersama Rombongan Sekolah
Museum juga cocok dijadikan bagian dari kunjungan edukasi sekolah.
Tetapi membawa 50 anak tentu berbeda dengan membawa dua anak bersama keluarga.
Sekolah perlu menyiapkan:
pembagian kelompok;
PIC setiap kelompok;
headcount;
meeting point;
aturan museum;
toilet;
transportasi;
jadwal;
dan konsumsi.
Hubungi pengelola destinasi lebih dulu untuk memastikan prosedur kunjungan rombongan.
Jangan berasumsi rombongan besar bisa masuk dengan prosedur yang sama seperti keluarga.
Urusan Makan Juga Perlu Masuk Itinerary
Museum hopping bisa kelihatan sederhana di Google Maps.
Realitanya:
berangkat;
parkir;
masuk museum;
anak bertanya;
ke toilet;
pindah tempat;
jalan lagi;
lalu tiba-tiba terdengar:
“Aku lapar.”
Untuk keluarga kecil, tentu mudah mencari waktu makan sendiri.
Tapi untuk rombongan sekolah atau komunitas, konsumsi perlu direncanakan.
Tentukan sejak awal:
berapa peserta;
kapan waktu makan;
di mana makanan boleh dikonsumsi;
dan apakah rombongan akan makan sebelum atau setelah kunjungan.
Jangan makan di area koleksi kalau memang tidak diperbolehkan.
Nasi Kotak untuk Rombongan Wisata Edukasi di Surabaya
Untuk rombongan sekolah, komunitas, atau keluarga besar yang menjalani wisata edukasi di Surabaya, nasi kotak bisa menjadi format konsumsi yang praktis karena porsinya sudah individual.
Pembagian bisa dilakukan berdasarkan kelompok tanpa harus membuat peserta mengantre buffet.
Jika menggunakan Nasi Kotak Early Bird Catering, sesuaikan waktu pengantaran dengan itinerary.
Misalnya makanan diterima di sekolah sebelum keberangkatan, di titik istirahat yang sudah ditentukan, atau setelah kegiatan museum selesai.
Yang penting koordinasikan lokasi dan waktunya sejak awal.
Museum mengurus sejarah.
Panitia mengurus anak.
Urusan makan jangan baru dipikirkan ketika 60 anak sudah kompak bertanya:
“Bu, kapan makan?”
FAQ tentang Museum di Surabaya untuk Anak
Museum apa di Surabaya yang cocok untuk anak?
Beberapa pilihan yang menarik antara lain Museum Sepuluh Nopember, Museum Pendidikan, Museum Olahraga, Museum Surabaya, Rumah Lahir Bung Karno, dan Monumen Kapal Selam. Pilihan terbaik tergantung usia serta minat anak.
Museum apa di Surabaya yang menarik untuk anak yang suka kendaraan?
Monumen Kapal Selam bisa menjadi pilihan karena anak dapat melihat langsung KRI Pasopati 410 dan menjelajahi bagian dalam kapal selam.
Apakah museum di Surabaya buka hari Senin?
Museum yang berada dalam jaringan Musea Surabaya umumnya mencantumkan Senin sebagai hari tutup pada halaman kunjungan resminya. Tetap cek jadwal terbaru sebelum datang karena operasional dapat berubah.
Apakah museum di Surabaya gratis?
Tidak semuanya. Beberapa destinasi gratis, sedangkan lainnya mengenakan tiket dengan kategori berbeda. Museum Surabaya dan Rumah Lahir Bung Karno, misalnya, saat pengecekan artikel ini tercantum gratis di situs resmi Musea.
Apakah perlu reservasi sebelum datang ke museum di Surabaya?
Untuk sejumlah museum Pemkot, sistem Tiket Wisata Surabaya digunakan untuk pemesanan kunjungan. Untuk keluarga maupun rombongan sekolah, cek ketentuan terbaru sebelum datang.
Museum mana yang cocok untuk belajar sejarah Pertempuran 10 November?
Museum Sepuluh Nopember di kawasan Tugu Pahlawan memang didedikasikan untuk sejarah perjuangan dan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Museum Bisa Jadi Tempat Anak Belajar Tanpa Merasa Sedang Belajar
Tidak masalah kalau setelah pulang anak tidak ingat semua tanggal.
Tidak masalah kalau mereka tidak membaca setiap panel.
Mungkin yang diingat justru:
“Aku pernah masuk kapal selam.”
“Sekolah zaman dulu ternyata beda.”
“Yang bikin Indonesia Raya ternyata main biola.”
Dari satu pengalaman kecil itu, rasa penasaran bisa tumbuh.
Dan saat anak mulai bertanya:
“Kenapa?”
sejarah berhenti menjadi hafalan.
Ia berubah menjadi cerita yang ingin mereka cari tahu sendiri.
Jadi kalau akhir pekan nanti bingung mau ke mana di Surabaya, sesekali coba museum.
Pilih satu yang sesuai minat anak, cek informasi kunjungan terbaru, datang tanpa target harus melihat semuanya, lalu nikmati ceritanya bersama.
Kalau kunjungannya dilakukan bersama rombongan sekolah atau komunitas dan membutuhkan konsumsi praktis, Nasi Kotak Early Bird Catering bisa disiapkan menyesuaikan jumlah peserta, lokasi, dan itinerary kegiatan di Surabaya.


