Anak Susah Makan? 9 Cara Membuat Waktu Makan Lebih Menyenangkan

Orang tua membiasakan anak makan sayur tanpa memaksa di meja makan

Anak Susah Makan? 9 Cara Sederhana Membuat Waktu Makan Lebih Menyenangkan

Nasi sudah di piring.

Ayam sudah dipotong kecil-kecil.

Sayur cuma sesendok, sengaja nggak banyak-banyak.

Anaknya duduk. Sendok pertama masuk.

Lalu…

“Nggak mau.”

Lho.

Padahal tadi ketika ditanya mau makan apa, jawabannya:

“Ayam.”

Ayam sudah ada.

Sekarang ayamnya malah dipandang seperti wong duwe utang. 😄

Kalau situasi seperti ini sering terjadi di rumah, sampeyan nggak sendirian. Fase memilih-milih makanan cukup umum pada anak, terutama usia kecil. Anak juga bisa berubah selera: makanan yang minggu ini ditolak belum tentu selamanya tidak disukai.

Yang penting, waktu makan jangan sampai setiap hari berubah menjadi arena perang.

Tujuannya bukan membuat anak menghabiskan satu piring dalam lima menit.

Kita justru ingin pelan-pelan membangun pengalaman makan yang nyaman, supaya anak mengenal makanan tanpa merasa tertekan.

Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dicoba di rumah.

1. Jangan Memulai Waktu Makan dengan Tekanan

Kadang sebelum anak menyentuh sendok, suasana meja sudah tegang.

“Ayo, harus habis.”

“Sayurnya dimakan.”

“Jangan lama-lama.”

“Kalau nggak habis, Mama marah.”

Bagi orang tua, kalimat seperti itu biasanya muncul karena khawatir anak kurang makan.

Tapi kalau hampir setiap waktu makan terasa seperti ujian, anak bisa mulai menghubungkan meja makan dengan tekanan.

American Academy of Pediatrics dan UNICEF sama-sama menyarankan pendekatan yang lebih tenang dan menghindari memaksa anak makan. Orang tua menyediakan pilihan makanan yang sesuai, sementara anak belajar merasakan lapar, kenyang, dan menentukan berapa banyak yang sanggup ia makan.

Bukan berarti anak bebas makan permen sak karepe, lho.

Orang tua tetap menentukan apa yang tersedia.

Tapi suasananya dibuat lebih santai.

Kadang kalimat:

“Dicoba sedikit, ya.”

jauh lebih ringan daripada:

“Harus habis!”

2. Mulai dari Porsi Kecil

Coba bayangkan kita duduk di restoran kemudian datang sepiring makanan segunung.

Belum makan sudah kenyang melihatnya.

Anak juga bisa merasakan hal yang sama.

Karena ukuran tubuh dan kebutuhan anak berbeda dari orang dewasa, mulailah dengan porsi yang realistis. UNICEF juga menyarankan memberikan porsi kecil agar anak tidak merasa kewalahan.

Misalnya anak sedang belajar makan sayur.

Nggak perlu langsung menaruh satu mangkuk brokoli.

Mulai satu atau dua potong kecil di samping makanan yang sudah ia kenal.

Kalau habis, bisa ditambah.

Secara psikologis rasanya juga berbeda.

Melihat piring kecil berhasil kosong bisa terasa seperti pencapaian.

Daripada melihat satu piring penuh lalu anak langsung bilang:

“Aku kenyang.”

Padahal sendoke ae durung obah. 😄

3. Pasangkan Makanan Baru dengan Makanan yang Sudah Disukai

Kalau anak suka telur tapi belum suka wortel, nggak perlu langsung mengganti seluruh makanannya dengan menu baru.

Telurnya tetap ada.

Wortelnya ikut hadir sedikit.

Misalnya:

telur dadar + nasi + beberapa potong wortel.

Besok mungkin wortelnya masuk telur gulung.

Minggu depan jadi sup.

Cara seperti ini membuat anak menghadapi makanan baru ditemani sesuatu yang sudah terasa aman baginya.

AAP juga menyarankan menyertakan setidaknya satu makanan yang anak sudah suka ketika menawarkan makanan lain yang belum familiar.

Jadi jangan berpikir:

“Kalau hari ini ditolak berarti anakku nggak suka wortel.”

Belum tentu.

Bisa saja:

hari ini tidak suka bentuknya;

besok tidak suka teksturnya;

bulan depan malah rebutan.

Anak memang plot twist berjalan. 😄

4. Jangan Menyerah Setelah Sekali Ditolak

Ini salah satu kesalahan yang gampang terjadi.

Anak mencoba brokoli.

Mukanya langsung berubah.

Besok brokoli dicoret dari daftar keluarga.

Padahal mengenal makanan baru memang kadang membutuhkan pengulangan. UNICEF menyebut balita bisa membutuhkan lebih dari sepuluh kali paparan sebelum menerima suatu makanan, sementara AAP juga menekankan pentingnya menawarkan kembali makanan yang sebelumnya ditolak.

Bukan berarti setiap hari anak dikejar-kejar brokoli.

Cukup hadirkan lagi pada kesempatan berbeda.

Tanpa drama.

Hari ini ditolak?

Ya sudah.

Minggu depan coba lagi.

Kita sedang mengenalkan, bukan melakukan sidang skripsi sayuran.

5. Libatkan Anak Sebelum Makanan Masuk Piring

Kadang rasa penasaran dimulai jauh sebelum waktu makan.

Ajak anak ikut kegiatan sederhana:

memilih buah;

mencuci tomat;

memetik daun;

mengaduk telur;

menaruh potongan timun di piring;

atau memilih antara dua sayuran.

UNICEF dan AAP sama-sama menyebut keterlibatan anak dalam memilih dan menyiapkan makanan bisa membuat mereka lebih tertarik mengenal dan mencoba makanan tersebut.

Nggak harus bikin acara masak satu jam.

Anak cukup diberi tugas:

“Tolong taruh tiga timun ini di piring, ya.”

Selesai.

Tapi ada rasa:

“Iki sing tak gawe.”

Dan makanan yang sebelumnya hanya “punya Mama” berubah menjadi sesuatu yang dia ikut buat.

Untuk anak kecil, tentu aktivitas dapur harus selalu disesuaikan dengan usia dan diawasi.

Pisau panas, minyak mendidih, kompor…

ojo digawe eksperimen parenting. 😄

6. Beri Pilihan, Tapi Jangan Terlalu Banyak

Ada bedanya antara memberikan kendali dan menyerahkan seluruh dapur.

Daripada bertanya:

“Mau makan apa?”

coba:

“Mau telur dadar atau ayam?”

Atau:

“Mau wortelnya direbus atau masuk sup?”

Dua pilihan cukup.

Anak merasa punya suara.

Orang tua tetap mengendalikan menu.

Strategi memberi pilihan terbatas juga sejalan dengan saran AAP untuk membiarkan anak memilih di antara opsi makanan yang orang tua sediakan.

Kalau pilihan terlalu luas, jawaban anak bisa saja:

“Es krim.”

Jam tujuh pagi.

Nah lo. 😄

7. Jadikan Makan Bersama sebagai Aktivitas Keluarga

Anak belajar banyak melalui contoh.

Kalau anak melihat ayah, ibu, atau kakaknya makan bersama dan menikmati makanan, situasinya berbeda dengan anak makan sendirian sementara semua orang sibuk dengan HP.

AAP menyarankan makan bersama keluarga sebisa mungkin dan mengurangi distraksi seperti layar saat makan. UNICEF juga menekankan peran orang tua sebagai contoh kebiasaan makan.

Nggak harus setiap makan menjadi momen keluarga sempurna ala iklan sirup.

Realitanya:

ayah kadang pulang telat;

ibu ada pekerjaan;

anak ada les;

kakaknya makan duluan.

Tapi ketika ada kesempatan, usahakan duduk bareng.

Ngobrol.

Cerita sekolah.

Tanya kejadian lucu hari itu.

Biarkan makanan menjadi bagian dari kebersamaan, bukan pusat interogasi:

“Sayurnya kok belum?”

“Ayamnya kok nggak dimakan?”

“Nasinya tinggal segitu?”

Kadang ketika perhatian pindah dari “berapa sendok yang masuk” ke “enaknya makan bareng”, suasananya justru lebih adem.

8. Hindari Menjadikan Makanan sebagai Hadiah atau Ancaman

Kalimat ini pasti familiar:

“Kalau sayurnya habis, boleh makan es krim.”

Kelihatannya efektif.

Tapi pesan tersembunyinya menjadi:

sayur = tugas yang tidak enak

sedangkan:

es krim = hadiah luar biasa.

UNICEF menyarankan agar makanan tidak digunakan sebagai hadiah atas perilaku baik karena hal itu dapat membentuk anggapan bahwa makanan tertentu lebih “berharga” dibanding lainnya.

Begitu juga ancaman:

“Kalau nggak makan, nggak boleh main.”

Kadang memang bisa membuat anak makan beberapa suap.

Tapi tujuan kita lebih panjang daripada memenangkan makan siang hari ini.

Kita ingin anak pelan-pelan mempunyai hubungan yang nyaman dengan makanan.

9. Variasikan Cara Penyajian Tanpa Harus Jadi Food Stylist

Ini kabar baik buat orang tua yang nggak punya waktu bikin nasi berbentuk Doraemon.

Tampilan menarik nggak harus rumit.

Wortel yang biasanya dimasak sop bisa dibuat telur gulung.

Buah bisa dipotong kecil dan ditaruh dalam wadah terpisah.

Nasi putih bisa sesekali menjadi nasi kepal.

Tempe bisa dibuat potongan mini.

Ayam bisa disuwir.

Kementerian Kesehatan juga pernah menyampaikan bahwa variasi penyajian buah dan sayur dapat membantu membuatnya lebih menarik untuk anak.

Coba pikirkan tiga hal:

warna, bentuk, dan tekstur.

Nggak harus semuanya berubah sekaligus.

Misalnya menu:

nasi + ayam + wortel.

Minggu depan tetap:

nasi + ayam + wortel.

Tapi ayamnya disuwir, wortelnya masuk omelet.

Bahan sama.

Pengalaman makan berbeda.

Efisien.

Dompet nggak nangis.

Ibunya juga nggak harus mengambil kursus food carving. 😄

Kalau Anak Tetap Menolak Makan, Jangan Langsung Panik

Ada hari anak makan banyak.

Ada hari cuma beberapa suap.

Ada makanan yang langsung disukai.

Ada makanan yang perlu bertemu berkali-kali dulu.

Selama anak aktif dan tumbuh dengan baik, pilih-pilih makanan pada usia kecil sering kali merupakan bagian dari perkembangan. Namun kalau orang tua khawatir terhadap pola makan, pertumbuhan, berat badan, kemampuan mengunyah atau menelan, atau ada keluhan lain yang menetap, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan.

Artikel ini tentu bukan pengganti pemeriksaan medis.

Karena istilah “anak susah makan” bisa berarti hal yang sangat berbeda pada setiap anak.

Ada yang cuma sedang bosan.

Ada yang sangat selektif.

Ada pula kondisi yang memang memerlukan evaluasi profesional.

Jadi kita fokus pada hal yang masih bisa dilakukan orang tua sehari-hari:

membuat pengalaman makan lebih nyaman.

Rutinitas Juga Membantu Anak Memahami Waktu Makan

Selain jenis makanan, pola harian juga punya peran.

Kalau anak ngemil terus sepanjang sore, kemudian pukul enam diminta makan nasi…

yo iso wae durung luwe. 😄

AAP menyarankan jadwal makan dan snack yang cukup terstruktur agar anak mulai memahami ritme makan sehari-hari.

Artinya bukan rumah harus seperti barak militer:

07.00 makan! 09.00 snack!

Nggak begitu.

Cukup ada pola yang relatif konsisten.

Anak tahu kira-kira kapan makan utama dan kapan camilan.

Dengan begitu rasa lapar dan kenyangnya juga punya kesempatan bekerja secara natural.

Untuk Keluarga Sibuk di Surabaya, Jangan Mengejar Menu yang Terlalu Sempurna

Nah, ini konteks yang dekat dengan banyak keluarga kota.

Pagi antar anak sekolah.

Lanjut kerja.

Siang ada urusan.

Sore jemput.

Malam masih mikir:

“Sesuk mangan opo maneh?”

Akhirnya niat membuat 17 macam kreasi makanan sehat tumbang di hari Rabu. 😄

Nggak apa-apa.

Variasi makanan keluarga nggak harus terjadi dalam satu piring.

Bisa dilihat dalam beberapa hari atau satu minggu.

Hari ini ayam.

Besok ikan.

Lusa telur.

Kemudian tempe.

Sayurnya juga berganti.

Lebih realistis.

Kalau salah satu masalah keluarga adalah waktu memasak yang makin sempit, orang tua juga nggak harus mengerjakan semuanya sendiri setiap hari.

Layanan Catering Harian bisa menjadi salah satu alternatif untuk membantu kebutuhan lauk dan sayur keluarga, sementara orang tua tetap menyesuaikan penyajian untuk anak berdasarkan kebiasaan makan masing-masing.

Early Bird Catering menyediakan menu masakan rumahan yang berganti untuk keluarga di Surabaya dan sekitarnya.

Tapi tujuannya bukan:

“Anak susah makan? Beli catering.”

Nggak sesederhana itu.

Catering hanya membantu satu pekerjaan:

menyiapkan makanan.

Sedangkan proses mengenalkan rasa, makan bersama, memberi contoh, mendengarkan anak, dan membangun suasana menyenangkan tetap lahir dari meja makan keluarga sendiri.

Jangan Mengukur Keberhasilan dari Piring yang Selalu Bersih

Piring kosong memang menyenangkan.

Apalagi buat orang tua yang sudah masak satu jam.

Tapi keberhasilan waktu makan nggak selalu berarti:

anak menghabiskan semuanya.

Kadang keberhasilannya adalah:

anak mau duduk bersama;

hari ini berani menyentuh brokoli;

besok mencicipi sedikit;

minggu depan ternyata makan satu potong.

Kecil?

Iya.

Tapi kebiasaan besar sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berkali-kali.

Jadi kalau malam ini anak baru makan sedikit sayurnya, nggak perlu meja makan berubah jadi ruang negosiasi PBB.

Taruh sendok.

Ngobrol.

Besok coba lagi.

Alon-alon, Rek. Mangan iku perjalanan, dudu ujian.

FAQ tentang Anak Susah Makan

Kenapa anak tiba-tiba susah makan?

Selera anak dapat berubah seiring perkembangan. Pada usia balita dan prasekolah, perilaku memilih makanan cukup umum. Namun penyebab setiap anak bisa berbeda, sehingga keluhan yang menetap atau mengkhawatirkan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Haruskah anak dipaksa makan kalau tidak mau?

Tekanan dan paksaan umumnya tidak dianjurkan. Orang tua dapat menyediakan pilihan makanan yang sesuai, memberikan porsi kecil, dan menawarkan kembali makanan di kesempatan lain.

Berapa kali makanan baru perlu dikenalkan kepada anak?

Tidak ada angka yang berlaku untuk semua anak, tetapi satu atau dua kali penolakan belum berarti anak selamanya tidak menyukai makanan tersebut. Sumber parenting UNICEF dan AAP menyebut paparan berulang sering diperlukan sebelum anak menerima makanan baru.

Bagaimana membuat anak tertarik mencoba sayur?

Coba mulai dengan porsi kecil, sajikan bersama makanan yang sudah disukai, variasikan bentuk atau cara memasaknya, serta libatkan anak ketika memilih atau menyiapkan makanan.

Apakah makan sambil menonton TV atau HP baik untuk anak susah makan?

Sebisa mungkin waktu makan dibuat bebas distraksi dan digunakan untuk makan bersama serta berinteraksi. AAP merekomendasikan makan di meja tanpa perangkat atau layar yang mengalihkan perhatian.

Kapan anak susah makan perlu diperiksakan?

Jika pola makan menimbulkan kekhawatiran mengenai pertumbuhan, berat badan, kondisi fisik, kemampuan makan atau menelan, atau masalahnya menetap dan mengganggu, konsultasikan kepada dokter anak atau tenaga kesehatan.