Jalan-Jalan ke Kota Lama Surabaya Bareng Keluarga: Apa Saja yang Bisa Dilakukan?

Keluarga berjalan-jalan bersama anak di kawasan Kota Lama Surabaya

Jalan-Jalan ke Kota Lama Surabaya Bareng Keluarga: 10 Aktivitas yang Bisa Dilakukan

Kalau mendengar Kota Lama Surabaya, jangan membayangkan aktivitasnya cuma datang, berdiri di depan gedung tua, foto dua kali, lalu pulang.

Justru serunya kawasan ini ada pada kegiatan sederhana:

jalan kaki;

melihat detail bangunan;

membandingkan Surabaya dulu dan sekarang;

mencari sudut foto;

mendengarkan cerita sejarah;

sampai memberi anak misi kecil seperti:

“Coba cari gedung paling unik menurutmu.”

Kota Lama Surabaya berada di kawasan utara kota dan dikembangkan sebagai destinasi heritage dengan beberapa zona sejarah. Pemerintah Kota Surabaya memperkenalkan empat zona utama, yaitu Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu, yang mencerminkan perjalanan panjang kawasan tersebut.

Jadi kalau mau jalan-jalan ke Kota Lama Surabaya bareng keluarga, tidak harus mengejar semua tempat dalam sekali kunjungan.

Pilih beberapa aktivitas yang paling cocok dengan usia anak dan energi keluarga.

Ini juga penting di baca :https://earlybirdcatering.id/anak-susah-makan-mengenalkan-makanan-baru/

1. Mulai dari Walking Tour Santai di Zona Eropa

Untuk kunjungan pertama, Zona Eropa menjadi titik yang relatif mudah digunakan untuk mengenalkan konsep Kota Lama kepada anak.

Kawasan ini memiliki sejumlah bangunan heritage di sekitar Jalan Rajawali dan Jembatan Merah. Pemkot mencatat beberapa titik seperti Gedung Internatio, Gedung Cerutu, kawasan Jembatan Merah, De Javasche Bank, serta bangunan bersejarah lainnya sebagai bagian dari daya tarik kawasan.

Tapi jangan langsung membuat anak menghafal nama gedung.

Coba mulai dengan permainan.

“Menurutmu bangunan mana yang paling tua?”

Lalu:

“Apa yang beda dengan gedung yang biasa kita lihat sekarang?”

Anak mungkin memperhatikan jendela.

Pintu.

Warna tembok.

Atap.

Tiang.

Atau hal kecil yang sama sekali tidak terpikir oleh orang tua.

Itulah serunya.

Kota berubah menjadi sesuatu yang bisa diamati, bukan sekadar latar belakang perjalanan.

jangan lewatkan tulisan ini :https://earlybirdcatering.id/anak-susah-makan-mengenalkan-makanan-baru/

2. Berhenti di Jembatan Merah dan Ceritakan Kenapa Tempat Ini Penting

Jembatan Merah bukan sekadar nama kawasan atau jalan yang sering didengar warga Surabaya.

Catatan cagar budaya Pemkot menunjukkan bahwa jembatan ini sudah memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial dan kemudian menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian peristiwa pertempuran Surabaya tahun 1945.

Untuk anak, tidak perlu memberikan seluruh kronologi peperangan di pinggir jalan.

Cukup mulai:

“Jembatan ini sudah ada jauh sebelum Papa Mama lahir. Bahkan sebelum Eyang lahir.”

Biasanya anak langsung punya ukuran waktu yang lebih mudah mereka bayangkan.

Untuk anak lebih besar, cerita bisa diperluas ke:

perdagangan;

perkembangan Surabaya utara;

perjuangan 1945;

dan kenapa Jembatan Merah tetap dikenal sampai sekarang.

3. Main “Detektif Bangunan Tua”

Ini aktivitas gratis, sederhana, dan lumayan ampuh kalau anak mulai berkata:

“Kita jalan terus ngapain?”

Berikan misi.

Cari:

  • bangunan dengan pintu paling besar;
  • jendela paling unik;
  • gedung yang menurut anak paling tua;
  • bangunan dengan bentuk yang tidak biasa;
  • detail arsitektur favorit;
  • satu benda yang mereka tidak tahu fungsinya.

Tidak harus ada jawaban benar.

Tujuannya membuat anak melihat.

Kalau menemukan sesuatu yang menarik, foto.

Nanti di rumah cari tahu bersama.

Dengan cara ini, wisata heritage berubah menjadi treasure hunt kecil.

kunjungi artikel menarik ini : https://earlybirdcatering.id/anak-pulang-sekolah-selalu-bilang-lapar-ini-yang-bisa-disiapkan-orang-tua/

4. Cari Gedung-Gedung yang Punya Cerita

Kota Lama menarik karena banyak bangunannya bukan dibuat sebagai dekorasi wisata.

Bangunan tersebut memang bagian dari perjalanan kota.

Misalnya Gedung Internatio di kawasan Jembatan Merah yang merupakan bangunan cagar budaya dan memiliki hubungan dengan sejarah perdagangan serta peristiwa Surabaya pada 1945.

Ada pula Gedung Cerutu yang mudah dikenali dari bentuk menaranya dan menjadi salah satu bangunan heritage di kawasan tersebut.

Tidak perlu berhenti lama di setiap gedung.

Pilih dua atau tiga.

Ceritakan satu fakta menarik.

Lalu lanjut jalan.

Untuk anak, satu cerita pendek yang diingat jauh lebih berguna daripada 17 fakta yang langsung menguap.

5. Ajak Anak Membandingkan Surabaya Dulu dan Sekarang

Ini salah satu aktivitas paling mudah dilakukan di Kota Lama.

Berdiri di sebuah ruas jalan.

Lihat sekeliling.

Lalu tanyakan:

“Kalau 100 tahun lalu kita berdiri di sini, kira-kira apa yang beda?”

Mobilnya?

Pakaiannya?

Jalannya?

Tokonya?

Cara orang berkomunikasi?

Transportasinya?

Anak yang lebih besar bisa diajak memikirkan kenapa kawasan Surabaya utara dahulu berkembang sebagai pusat perdagangan.

Karena letaknya dekat jalur perdagangan dan pelabuhan, kawasan Kota Lama berkembang menjadi tempat bertemunya berbagai aktivitas ekonomi dan komunitas. Jejak tersebut masih terlihat melalui pembagian zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu yang sekarang diperkenalkan dalam pengembangan wisata Kota Lama.

Mendadak pelajaran sejarah, ekonomi, dan geografi bertemu di satu trotoar.

Tanpa buku paket.

6. Jangan Cuma Zona Eropa, Kenalkan Empat Wajah Kota Lama

Kalau punya waktu lebih panjang atau ingin kembali pada kunjungan berikutnya, kenalkan konsep bahwa Kota Lama Surabaya tidak hanya satu ruas jalan dengan gedung kolonial.

Ada empat zona yang diperkenalkan Pemkot.

Zona Eropa

Identik dengan bangunan heritage bergaya Eropa di sekitar Rajawali dan Jembatan Merah.

Zona Pecinan

Membawa cerita komunitas Tionghoa dan aktivitas perdagangan yang sudah lama menjadi bagian dari perkembangan Surabaya.

Zona Arab

Berkaitan dengan kawasan Ampel dan jejak komunitas Arab serta aktivitas religi dan perdagangan di Surabaya utara.

Zona Melayu

Melengkapi gambaran Kota Lama sebagai kawasan tempat berbagai komunitas hidup dan berkembang.

Untuk keluarga, tidak perlu mengunjungi keempatnya dalam sehari.

Justru bisa dibuat seri:

Weekend ini Zona Eropa.

Lain waktu:

Ampel dan kawasan Arab.

Perjalanan jadi punya alasan untuk kembali.

7. Foto Keluarga, tapi Jangan Sampai Jalan-Jalannya Berubah Jadi Photoshoot

Sulit menolak.

Bangunan heritage memang enak difoto.

Ambil foto keluarga.

Foto anak.

Foto arsitektur.

Foto candid.

Tapi setelah itu simpan HP sebentar.

Karena kalau setiap 20 meter:

“Dek, berdiri sana.”

“Papa geser dikit.”

“Lihat sini.”

“Sekali lagi.”

“Yang tadi kurang aesthetic.”

Anak akan mengenang Kota Lama sebagai:

tempat Mama mengambil 187 foto.

Lebih menarik kalau anak juga diberi kesempatan memegang kamera atau HP sebentar.

Tantang mereka mengambil:

tiga foto Kota Lama versi mereka.

Hasilnya mungkin miring.

Mungkin isinya kucing.

Tidak masalah.

Itu bagian dari pengalaman mereka.

8. Coba Transportasi Wisata Kalau Jadwalnya Cocok

Salah satu pengembangan wisata Kota Lama adalah moda wisata yang membantu pengunjung menikmati kawasan tanpa semuanya ditempuh dengan berjalan kaki.

Pemkot pernah memperkenalkan Surabaya Sightseeing and City Tour (SSCT) serta becak listrik sebagai bagian dari pengalaman wisata Kota Lama. Layanan dan mekanisme operasional dapat berubah, jadi jangan menjadikan kendaraan tersebut satu-satunya rencana perjalanan sebelum mengecek informasi terbaru.

Kalau tersedia pada hari kunjungan, aktivitas seperti ini bisa menarik untuk anak.

Setelah berjalan cukup lama, mereka mendapat pengalaman berbeda:

melihat Kota Lama sambil naik kendaraan.

Kaki istirahat.

Rasa penasaran lanjut.

Win-win.

9. Kenalkan Anak dengan Transportasi Umum Sekalian

Kota Lama juga cukup menarik untuk digabungkan dengan pengalaman naik transportasi umum.

Pemkot menyebut Suroboyo Bus sebagai salah satu moda yang melintasi kawasan Zona Eropa Kota Lama. Moda lain seperti Trans Semanggi dan WiraWiri juga dapat digunakan melalui koneksi tertentu sesuai rute yang berlaku.

Artinya, untuk keluarga yang ingin sedikit petualangan:

perjalanannya sendiri bisa menjadi bagian dari wisata.

Anak belajar:

mencari halte;

menunggu bus;

memperhatikan arah;

dan mengenali bagian kota yang dilewati.

Kalau baru pertama mencoba, jangan membuat rute terlalu kompleks.

Satu moda utama plus jalan kaki sudah cukup.

10. Tutup Perjalanan dengan Ngobrol, Bukan Kuis

Setelah selesai jalan-jalan, jangan langsung:

“Coba sebutkan tiga bangunan yang tadi kita lihat!”

Weekend berubah menjadi ujian lisan.

Coba pertanyaan yang lebih santai:

“Tempat mana yang paling kamu suka?”

“Gedung mana yang menurutmu paling keren?”

“Ada yang bikin penasaran nggak?”

“Kalau balik lagi, mau lihat bagian mana?”

Dari jawaban anak, orang tua bisa mengetahui apa yang benar-benar mereka perhatikan.

Mungkin bukan bangunan paling bersejarah.

Mungkin justru pintu tua.

Bus.

Jembatan.

Lampu jalan.

Atau es yang diminum saat istirahat.

Tetap sah.

Kota Lama Surabaya Cocok untuk Anak Usia Berapa?

Sebenarnya bisa untuk berbagai usia, tetapi cara menikmatinya berbeda.

Untuk anak kecil, fokus pada:

jalan santai;

melihat bangunan;

mencari bentuk dan warna;

foto;

serta perjalanan singkat.

Untuk anak SD, mulai tambahkan:

permainan detektif;

cerita Surabaya dulu;

Jembatan Merah;

perdagangan;

dan perbedaan bangunan.

Untuk anak SMP ke atas, pembahasannya bisa masuk lebih jauh ke:

sejarah kolonial;

perkembangan kota;

perdagangan;

arsitektur;

komunitas;

dan peristiwa 1945.

Jadi tempatnya sama.

Kedalaman ceritanya yang menyesuaikan umur.

Contoh Itinerary Kota Lama Surabaya Bareng Keluarga

Jangan membuat itinerary terlalu padat.

Contoh perjalanan santai:

Waktu Aktivitas
08.00 Tiba di kawasan Kota Lama
08.15 Mulai walking tour Zona Eropa
09.00 Jembatan Merah dan eksplorasi bangunan sekitar
10.00 Istirahat, minum, snack
10.30 Lanjut beberapa titik heritage
11.30 Foto keluarga dan ngobrol santai
12.00 Makan siang
Setelahnya Pulang atau lanjut ke zona lain jika energi masih ada

Jam tersebut hanya contoh itinerary, bukan jam operasional destinasi.

Beberapa bangunan mempunyai fungsi dan aturan akses masing-masing. Jangan berasumsi semua gedung heritage boleh dimasuki.

Untuk keluarga dengan anak kecil, bahkan dua sampai tiga jam sudah cukup.

Pagi atau Sore, Mana yang Lebih Enak?

Untuk kegiatan yang banyak berjalan kaki, pagi punya keuntungan karena perjalanan bisa dimulai sebelum hari semakin panas.

Sore bisa memberikan suasana berbeda dan lebih nyaman ketika matahari mulai turun.

Namun kondisi Surabaya bisa panas atau hujan tergantung hari dan musim.

Sebelum berangkat, cek cuaca.

Kalau membawa anak, prioritaskan kenyamanan daripada mengejar cahaya foto terbaik.

Karena anak kepanasan tidak peduli golden hour.

Apa yang Perlu Dibawa?

Karena aktivitas utama adalah berjalan, bawa sesedikit mungkin.

Yang berguna antara lain:

  • air minum;
  • topi;
  • payung lipat sesuai cuaca;
  • tisu;
  • obat pribadi jika diperlukan;
  • snack kecil;
  • power bank;
  • alas kaki nyaman.

Kalau anak sudah cukup besar, berikan tas kecil sendiri.

Botol minum mereka masuk sana.

Tapi jangan terlalu berat.

Kalau tidak, setelah setengah jam muncul kalimat:

“Pa, bawain.”

Sudah bisa diprediksi.

Kalau Bawa Eyang, Rutenya Perlu Diubah

Kota Lama juga menarik untuk perjalanan tiga generasi.

Eyang bahkan mungkin punya cerita sendiri tentang Surabaya.

Tapi jangan menggunakan standar jalan kaki anak muda.

Kurangi jarak.

Perbanyak istirahat.

Pastikan akses kendaraan.

Cari tempat duduk.

Hindari memaksakan semua zona.

Konsepnya bisa:

satu kawasan → satu atau dua bangunan → makan bersama.

Kadang cerita dari Eyang justru menjadi “koleksi museum” terbaik hari itu.

Jangan Lupa: Ini Kawasan Kota, Bukan Taman Bermain Tertutup

Saat membawa anak ke Kota Lama, tetap ingat bahwa aktivitas berlangsung di lingkungan perkotaan.

Ada jalan kendaraan.

Persimpangan.

Trotoar.

Keramaian.

Bangunan yang masih digunakan.

Jadi anak tetap perlu didampingi, terutama ketika berpindah jalan atau terlalu bersemangat mengejar sesuatu.

Jangan sampai permainan “detektif bangunan” berubah menjadi:

“Detektifnya mana?”

Bisa Digabung dengan Wisata Sejarah Surabaya Lainnya?

Bisa.

Tapi jangan semuanya sekaligus.

Kalau keluarga ingin memperluas tema Kota Pahlawan, perjalanan Kota Lama bisa dihubungkan pada kesempatan lain dengan:

Tugu Pahlawan;

Museum Sepuluh Nopember;

Tunjungan;

Peneleh;

Museum H.O.S. Tjokroaminoto;

atau Rumah Lahir Bung Karno.

Dengan begitu anak memahami bahwa sejarah Surabaya tidak berada di satu gedung.

Seluruh kota menyimpan cerita.

Bagaimana Kalau Datang Bersama Rombongan Sekolah?

Kota Lama juga potensial untuk walking tour edukasi.

Namun membawa satu keluarga dan membawa 60 siswa tentu beda level.

Untuk rombongan, siapkan:

pembagian kelompok;

PIC setiap kelompok;

headcount;

meeting point;

rute yang jelas;

aturan menyeberang;

waktu toilet;

tempat istirahat;

dan konsumsi.

Pastikan juga aturan kunjungan pada bangunan atau destinasi yang ingin dimasuki.

Jangan membuat itinerary dengan asumsi:

“Nanti pokoknya jalan bareng.”

Dengan puluhan anak, “bareng” bisa berubah definisi dalam lima menit.

Urusan Makan untuk Rombongan Sebaiknya Direncanakan

Untuk keluarga kecil, fleksibel.

Lapar?

Cari makan.

Rombongan sekolah atau komunitas tidak sesederhana itu.

Tentukan sejak awal:

berapa peserta;

jam makan;

lokasi makan;

apakah lokasi tersebut memungkinkan rombongan berhenti;

serta bagaimana distribusi konsumsi dilakukan.

Kalau aktivitasnya walking tour, konsumsi yang mudah dibagikan biasanya lebih praktis dibanding sistem yang membutuhkan antrean panjang.

Nasi Kotak untuk Walking Tour dan Rombongan Kota Lama Surabaya

Untuk rombongan sekolah, komunitas, kantor, atau keluarga besar yang menjelajahi Kota Lama, nasi kotak bisa menjadi pilihan konsumsi yang praktis.

Setiap peserta mendapat porsi individual.

Pembagian dapat dilakukan berdasarkan kelompok.

Waktu makan juga bisa ditempatkan setelah walking tour sehingga peserta tidak perlu membawa makanan sepanjang perjalanan.

Jika menggunakan Nasi Kotak Early Bird Catering, koordinasikan jumlah peserta, titik pengantaran, dan waktu makan berdasarkan itinerary.

Konsumsi tidak perlu menjadi bagian paling rumit dari perjalanan.

Yang lebih penting adalah semua peserta tahu:

jalan ke mana, kumpul di mana, dan makan jam berapa.

Tiga informasi itu bisa menyelamatkan panitia dari banyak pertanyaan.

FAQ tentang Kota Lama Surabaya

Kota Lama Surabaya ada apa saja?

Kota Lama Surabaya mempunyai kawasan heritage yang dibagi menjadi Zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu. Di kawasan Zona Eropa dan sekitarnya terdapat titik seperti Jembatan Merah, Jalan Rajawali, Gedung Internatio, Gedung Cerutu, dan berbagai bangunan bersejarah lainnya.

Apakah Kota Lama Surabaya cocok untuk anak?

Ya. Anak bisa diajak walking tour ringan, mengamati bangunan tua, bermain detektif arsitektur, belajar sejarah Kota Surabaya, dan mencoba transportasi kota. Sesuaikan durasi dan kedalaman cerita dengan usia anak.

Apakah masuk Kota Lama Surabaya bayar?

Kota Lama merupakan kawasan kota sehingga berjalan di area publiknya bukan seperti memasuki satu objek wisata bertiket. Namun bangunan, atraksi, tur, atau layanan tertentu dapat memiliki ketentuan sendiri. Periksa informasi terbaru untuk aktivitas khusus yang ingin digunakan.

Kapan waktu yang enak untuk ke Kota Lama Surabaya?

Untuk keluarga yang ingin banyak berjalan kaki, pagi atau menjelang sore biasanya lebih nyaman dibanding tengah hari yang panas. Tetap cek kondisi cuaca pada hari kunjungan.

Apakah Kota Lama Surabaya bisa dicapai naik transportasi umum?

Bisa. Pemkot menyebut Suroboyo Bus sebagai salah satu moda yang melintasi Zona Eropa Kota Lama. Pilihan koneksi lain bergantung pada rute Trans Semanggi atau WiraWiri yang berlaku.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jalan-jalan di Kota Lama Surabaya?

Tidak ada durasi wajib. Untuk keluarga dengan anak, sekitar dua sampai empat jam sudah cukup untuk walking tour santai di satu kawasan, istirahat, dan menikmati beberapa titik tanpa terburu-buru.

Kota Lama Lebih Seru Kalau Tidak Buru-Buru

Tidak perlu melihat seluruh Kota Lama Surabaya dalam sehari.

Tidak perlu masuk semua gedung.

Tidak perlu mengetahui seluruh sejarah sebelum pulang.

Cukup berjalan.

Lihat bangunannya.

Temukan detail yang menarik.

Ceritakan satu-dua kisah kepada anak.

Foto seperlunya.

Istirahat kalau lelah.

Lalu pulang dengan satu pertanyaan baru.

“Dulu Surabaya seperti apa, ya?”

Kalau anak mulai bertanya begitu, perjalanan sudah berhasil.

Karena Kota Lama bukan hanya tempat mencari latar foto yang cantik.

Ia bisa menjadi cara sederhana menunjukkan kepada anak bahwa kota tempat mereka tinggal atau kunjungi sudah mempunyai cerita jauh sebelum mereka lahir.

Dan masih banyak cerita lain yang bisa ditemukan pada kunjungan berikutnya.