Masak Sendiri atau Langganan Catering Harian? Yuk, Hitung Waktu dan Biayanya

Perbandingan masak sendiri dan catering harian untuk keluarga

Masak Sendiri atau Langganan Catering Harian? Yuk, Hitung Waktu dan Biayanya

Jam lima sore.

Baru pulang kerja.

Anak belum mandi. Cucian masih menunggu. Grup WhatsApp kantor masih bunyi.

Lalu dari dalam rumah terdengar pertanyaan yang sangat sederhana:

“Ma, nanti makan apa?”

Nah.

Pertanyaan enam kata itu kadang efeknya lebih berat daripada rapat dua jam. 😄

Pilihan paling umum biasanya ada dua:

masak sendiri atau langganan catering harian.

Kalau hanya dilihat sekilas, masak sendiri terasa pasti lebih murah. Kita beli bahan sendiri, masak sendiri, nggak bayar jasa orang lain.

Tapi benarkah selalu begitu?

Jawabannya:

belum tentu.

Karena biaya makan keluarga bukan cuma harga ayam dan sayur.

Ada minyak.

Ada bumbu.

Ada gas atau listrik.

Ada bahan yang terbuang.

Ada perjalanan belanja.

Dan yang paling sering lupa dihitung:

waktu.

Yuk, kita hitung pelan-pelan.

Pertama, Bedakan “Harga Makanan” dan “Biaya Menyiapkan Makanan”

Misalnya kita ingin makan:

  • ayam kecap;
  • tahu atau tempe;
  • sayur bening;
  • sambal.

Kalau masak sendiri, yang kelihatan biasanya:

ayam sekian
tahu sekian
bayam sekian

Lalu kesimpulannya:

“Murah kok.”

Padahal masih ada komponen lain:

  • bawang merah;
  • bawang putih;
  • cabai;
  • kecap;
  • garam dan bumbu;
  • minyak goreng;
  • gas atau listrik;
  • air;
  • bahan yang tersisa;
  • transportasi atau ongkos belanja.

Satu per satu memang terlihat kecil.

Tapi kalau dihitung sebulan, mulai terasa.

Jadi sebelum membandingkan dengan catering, gunakan hitungan yang sama-sama lengkap.

Contoh Simulasi Biaya Masak Sendiri untuk Keluarga

Agar gampang, kita buat contoh sederhana.

Misalnya sebuah keluarga membutuhkan makan untuk 3 orang.

Hari ini menunya:

ayam kecap + tahu + sayur + sambal.

Kita buat simulasi, bukan harga pasar resmi:

Komponen Contoh Biaya
Ayam/lauk utama Rp28.000
Tahu/lauk pendamping Rp6.000
Sayur Rp7.000
Bumbu dan sambal Rp5.000
Minyak + gas/listrik Rp4.000
Total contoh Rp50.000

Sekali lagi:

Rp50.000 ini bukan klaim harga baku di Surabaya.

Bisa lebih murah.

Bisa lebih mahal.

Tergantung jenis lauk, tempat belanja, porsi keluarga, stok bumbu di rumah, dan kebiasaan memasak.

Kalau memilih ikan atau daging, tentu berbeda.

Kalau hari itu lauknya telur-tempe, bisa jauh lebih rendah.

Yang menarik justru bukan angka Rp50.000-nya.

Tapi cara menghitungnya.

Jangan cuma:

harga bahan utama.

Hitung juga biaya pendukungnya.

Sekarang Hitung Waktunya

Nah, ini yang sering lolos.

Mari kita uraikan aktivitas memasak sederhana.

Aktivitas Contoh Waktu
Menentukan menu 5–10 menit
Belanja/rencana belanja 15–30 menit
Menyiapkan bahan 15 menit
Memasak 30–45 menit
Beres-beres dapur 15 menit
Total ±80–115 menit

Kalau sebagian bahan sudah tersedia, waktunya tentu bisa lebih pendek.

Kalau belanja dilakukan sekaligus seminggu sekali, waktu belanja harian juga bisa hilang.

Tapi secara realistis, kegiatan makan keluarga tetap membutuhkan waktu.

Misalnya kita pakai angka konservatif:

75 menit per hari.

Kalau memasak enam hari dalam seminggu:

75 menit × 6 hari
= 450 menit

atau:

7,5 jam per minggu.

Dalam empat minggu:

7,5 jam × 4
= 30 jam per bulan.

Tiga puluh jam.

Hampir setara empat hari kerja kalau satu hari kerja dihitung sekitar delapan jam.

Lho.

Kok dadi akeh? 😄

Apakah Berarti Masak Sendiri Jadi Mahal?

Nggak.

Jangan dibalik juga.

Masak sendiri tetap bisa menjadi pilihan paling hemat, terutama kalau:

  • belanja terencana;
  • masak untuk beberapa orang;
  • bahan digunakan sampai habis;
  • terbiasa meal planning;
  • sudah mempunyai stok bumbu;
  • menikmati kegiatan memasak;
  • dan waktu memasak memang tersedia.

Untuk keluarga seperti ini, masak sendiri sangat masuk akal.

Bahkan kegiatan memasak bisa menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan rumah.

Ada aroma bawang goreng.

Ada suara minyak.

Ada anak masuk dapur:

“Masak opo, Ma?”

Ada sambal yang takarannya cuma ibunya sendiri yang ngerti.

Hal-hal seperti itu memang nggak bisa dimasukkan Excel. 😄

Lalu Apa yang Dibeli Saat Kita Membayar Catering Harian?

Saat menggunakan catering, kita bukan hanya membeli ayam, tempe, dan sayur.

Yang kita beli adalah:

bahan + perencanaan menu + belanja + proses memasak + pengemasan + pengiriman + waktu.

Itulah kenapa membandingkan catering dengan harga ayam mentah saja sebenarnya kurang adil.

Sama seperti naik taksi.

Kalau dibandingkan cuma dengan harga bensin kendaraan sendiri, tentu mobil sendiri terlihat lebih murah.

Tapi taksi menjual sesuatu yang berbeda:

kita tidak perlu mengemudi.

Catering juga begitu.

Yang dibeli bukan sekadar makanan.

Yang dibeli adalah:

“Hari ini aku nggak perlu mikir masak.”

Coba Bandingkan dengan Catering Harian EBC

Untuk membuat perbandingannya lebih nyata, kita bisa memakai paket Catering Harian Early Bird Catering sebagai contoh.

Paket keluarga yang saat ini kita gunakan antara lain:

  • 2 porsi: Rp45.000
  • 3 porsi: Rp65.000
  • 4 porsi: Rp85.000

Menu Catering Harian terdiri dari kombinasi:

lauk utama + lauk pendamping + sayur + sambal.

Menu berganti mengikuti jadwal.

Di situs EBC sendiri layanan Catering Harian memang ditujukan untuk orang yang sibuk, tidak sempat memasak, bingung menentukan menu, atau ingin masakan rumahan yang dikirim ke rumah.

Sekarang kita coba bandingkan.

Contoh Simulasi Keluarga 3 Orang

Misalnya keluarga tiga orang.

Pilihan A: Masak Sendiri

Contoh biaya:

Rp50.000/hari

Contoh waktu aktif:

75 menit/hari

Kalau enam hari:

Rp50.000 × 6
= Rp300.000/minggu

Waktu:

75 menit × 6
= 7,5 jam/minggu

Pilihan B: Catering Harian

Paket tiga porsi:

Rp65.000/hari

Kalau enam hari:

Rp65.000 × 6
= Rp390.000/minggu

Selisih dibanding simulasi masak sendiri:

Rp390.000 − Rp300.000
= Rp90.000/minggu

Tapi ada sesuatu yang berubah besar:

waktu dapur berkurang sekitar 7,5 jam.

Dengan contoh ini, keluarga membayar tambahan sekitar:

Rp90.000 untuk menghemat sampai sekitar 7,5 jam aktivitas menyiapkan makanan dalam seminggu.

Kalau dibagi:

Rp90.000 ÷ 7,5 jam
Rp12.000 per jam waktu yang dihemat.

Nah.

Sekarang pertanyaannya berubah.

Bukan lagi:

“Catering lebih mahal Rp15.000 sehari, ya?”

Tapi:

“Apakah Rp15.000 sehari sepadan dengan waktu yang bisa saya gunakan untuk hal lain?”

Jawabannya bisa berbeda untuk setiap keluarga.

Coba Lihat dalam Sebulan

Pakai contoh yang sama.

Masak sendiri

Rp50.000 × 24 hari
= Rp1.200.000

Waktu:

75 menit × 24
= 1.800 menit

= 30 jam.

Catering Harian

Rp65.000 × 24 hari
= Rp1.560.000

Selisih:

Rp360.000/bulan.

Dengan simulasi tadi, tambahan Rp360.000 tersebut membeli pengurangan pekerjaan dapur sekitar:

30 jam per bulan.

Rp360.000 ÷ 30 jam
= sekitar Rp12.000 per jam.

Sekali lagi, ini bukan keputusan bahwa catering pasti “lebih untung”.

Tapi sekarang perbandingannya lebih lengkap.

Kita sudah melihat:

uang + waktu.

Tapi Masak Sendiri Bisa Jauh Lebih Murah dari Itu

Betul.

Misalnya keluarga hari ini makan:

telur dadar + tempe + sayur.

Biaya bisa jauh lebih rendah daripada contoh Rp50.000.

Apalagi kalau:

belanja di pasar;

memasak dalam jumlah lebih besar;

punya stok bumbu;

dan sebagian masakan bisa dimanfaatkan untuk makan berikutnya.

Dalam situasi itu, selisih terhadap catering akan lebih besar.

Maka kalau prioritas utama keluarga adalah:

menekan pengeluaran semaksimal mungkin,

masak sendiri biasanya unggul.

Tapi syaratnya:

waktunya tersedia.

Catering Bisa Justru Mengurangi Pengeluaran Tersembunyi

Ada situasi sebaliknya.

Niat awal:

“Nanti masak.”

Siang ternyata rapat.

Sore capek.

Akhirnya pesan makanan online.

Misalnya tiga orang masing-masing pesan makanan berbeda.

Belum ongkir.

Belum biaya platform.

Belum:

“Sekalian minum, ya?” 😄

Nah.

Kalau kejadian seperti itu tiga-empat kali seminggu, biaya makan bisa berubah jauh.

Jadi catering harian tidak selalu bersaing dengan:

masak sendiri yang ideal.

Kadang kompetitor sebenarnya adalah:

“niat masak yang akhirnya berubah menjadi pesan makanan.”

Iki sing bahaya. 😄

Jangan Lupa Menghitung Bahan yang Terbuang

Ada tiga wortel dibeli.

Terpakai satu.

Dua masuk kulkas.

Minggu berikutnya:

lemes.

Ada seikat daun bawang.

Dipakai sedikit.

Sisanya pelan-pelan berubah menjadi artefak. 😄

Meal planning bisa mengurangi hal ini.

Tapi kalau keluarga sering membeli bahan tanpa rencana, ada biaya makanan yang akhirnya tidak masuk perut.

Dalam catering, risiko bahan mentah terbuang pindah ke pihak penyedia.

Pelanggan menerima porsi makanan yang sudah jadi.

Bandingkan dengan Cara Ini

Kalau sampeyan ingin benar-benar tahu mana yang lebih hemat untuk keluarga sendiri, jangan gunakan angka orang lain.

Selama tujuh hari, catat.

Biaya Masak Sendiri

Masukkan:

  • bahan utama;
  • sayur;
  • lauk pendamping;
  • bumbu;
  • minyak;
  • gas/listrik;
  • transportasi belanja;
  • makanan yang terbuang.

Lalu hitung waktunya:

  • belanja;
  • menyiapkan;
  • memasak;
  • membersihkan.

Setelah seminggu, baru bandingkan dengan harga catering yang sesuai jumlah anggota keluarga.

Iki luwih jujur.

Karena keluarga di Rungkut belum tentu pola belanjanya sama dengan keluarga di Citraland.

Keluarga dua orang beda dengan keluarga lima orang.

Yang belanja di pasar beda dengan yang selalu belanja di supermarket.

Ringkasnya: Mana yang Unggul?

Pertimbangan Masak Sendiri Catering Harian
Potensi biaya termurah ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐
Hemat waktu ⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐⭐
Kontrol bahan ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐
Tidak perlu belanja ⭐⭐⭐⭐⭐
Tidak perlu menentukan menu ⭐⭐⭐⭐⭐
Fleksibilitas rasa ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐
Minim cuci alat masak ⭐⭐⭐⭐⭐
Cocok untuk keluarga sibuk ⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐⭐
Cocok untuk yang suka masak ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐

Jadi pemenangnya siapa?

Tidak ada.

Tergantung apa yang ingin dihemat.

Kalau ingin menghemat uang sebanyak mungkin:

masak sendiri berpotensi menang.

Kalau ingin menghemat waktu dan tenaga:

catering harian unggul.

Masak Sendiri Cocok Kalau…

Masak sendiri biasanya lebih masuk akal jika keluarga:

  • punya waktu memasak;
  • senang memasak;
  • ingin kontrol penuh terhadap bahan;
  • mempunyai kebutuhan makanan sangat spesifik;
  • terbiasa belanja terencana;
  • bisa memanfaatkan stok dan sisa bahan;
  • dan ingin menekan biaya makanan.

Kalau dapur adalah aktivitas yang sampeyan nikmati, jangan dihitung sebagai beban.

Orang yang suka masak bisa menganggap 60 menit di dapur sebagai hiburan.

Orang lain melihat 60 menit itu dan berpikir:

“Ya Allah, mending turu.” 😄

Dua-duanya sah.

Catering Harian Cocok Kalau…

Catering mulai menarik jika:

  • suami-istri sama-sama bekerja;
  • mempunyai anak sekolah;
  • belum punya ART;
  • jadwal keluarga padat;
  • sering akhirnya membeli makanan karena nggak sempat memasak;
  • capek menentukan menu;
  • atau ingin sebagian pekerjaan rumah dikurangi.

Situs Early Bird Catering juga secara khusus menyebut kesibukan, persiapan sekolah anak, tidak mempunyai waktu memasak, dan kebingungan menentukan menu sebagai masalah yang ingin dibantu layanan Catering Harian.

Nggak Harus Memilih 100% Salah Satu

Nah, menurutku ini justru pilihan paling realistis.

Nggak perlu:

masak sendiri tujuh hari

atau:

catering tujuh hari.

Bisa hybrid.

Contohnya:

Senin–Jumat catering, weekend masak

Hari kerja tenaga disimpan.

Sabtu-Minggu dapur hidup lagi.

Catering saat hari paling sibuk

Misalnya:

Senin, Rabu, Jumat catering.

Selasa, Kamis masak sendiri.

Catering untuk makan siang saja

Sarapan dan makan malam tetap masak.

Pilihan seperti ini membuat keluarga mendapat kepraktisan tanpa kehilangan kegiatan memasak sepenuhnya.

Artikel mengenai menu makan siang keluarga untuk seminggu juga bisa membantu menentukan hari mana yang enak dimasak sendiri dan hari mana yang lebih realistis dibantu catering.

Untuk Keluarga Surabaya, Waktu Perjalanan Juga Punya Nilai

Ini yang sangat lokal.

Kalau rumah dan tempat kerja berdekatan, mungkin masih santai.

Tapi bayangkan:

tinggal di Surabaya Barat;

kerja di pusat kota;

atau bergerak dari Surabaya Timur ke wilayah lain.

Pulang sore.

Macet.

Masih mampir beli bahan.

Sampai rumah mulai masak.

Secara rupiah mungkin tetap lebih hemat.

Tapi pertanyaannya:

tenagane isih ono ta? 😄

Kondisi seperti inilah yang membuat nilai “makanan sudah tersedia di rumah” terasa berbeda.

Early Bird Catering sendiri menawarkan layanan Catering Harian dengan pengiriman makanan rumahan ke rumah pelanggan, dan situs resminya menonjolkan pengiriman sebagai salah satu bagian dari layanannya.

Jangan Hanya Mencari Catering yang Murah

Kalau akhirnya memilih catering, jangan cuma membandingkan angka.

Cek juga:

Menu

Apakah berganti dan cukup cocok untuk keluarga?

Porsi

Harga murah belum tentu murah kalau porsinya ternyata terlalu sedikit.

Rasa

Makanan untuk sehari-hari biasanya lebih nyaman kalau karakter rasanya bisa diterima keluarga.

Jadwal pengiriman

Pastikan cocok dengan waktu makan.

Area layanan

Pastikan alamat memang masuk jangkauan.

Fleksibilitas

Tanyakan bagaimana jika ada jadwal yang berubah atau kebutuhan tertentu.

Website EBC sendiri menyarankan calon pelanggan memperhatikan pengalaman penyedia, variasi menu, layanan pengiriman, kebersihan, dan respons layanan sebelum memilih catering.

Catering Harian Early Bird Catering Bisa Jadi Salah Satu Pilihan

Untuk keluarga di Surabaya dan sekitarnya yang ingin tetap menikmati masakan rumahan tetapi tidak selalu mempunyai waktu memasak, Early Bird Catering mempunyai layanan Catering Harian.

Menu hariannya terdiri dari kombinasi:

lauk utama + lauk pendamping + sayur + sambal.

Pilihan paket saat ini:

2 porsi — Rp45.000
3 porsi — Rp65.000
4 porsi — Rp85.000

Jadi sebelum memutuskan, coba lakukan eksperimen sederhana:

catat biaya dan waktu memasak keluarga selama satu minggu.

Setelah itu bandingkan.

Bukan cuma:

“Mana lebih murah?”

Tapi:

“Dengan kehidupan keluarga kami sekarang, mana yang paling masuk akal?”

Nah, jawabannya biasanya mulai kelihatan.

Uang Bisa Dicari Lagi, Waktu Tidak Bisa Disimpan di Kulkas

Masak sendiri punya kelebihan yang sulit digantikan.

Kontrol.

Kebebasan.

Aroma dapur.

Resep keluarga.

Dan rasa puas ketika satu rumah bilang:

“Enak.”

Catering juga punya sesuatu yang sulit diberikan oleh dapur sendiri:

waktu.

Satu jam untuk bermain dengan anak.

Satu jam untuk menyelesaikan pekerjaan.

Satu jam untuk olahraga.

Atau kadang…

satu jam untuk nggak ngapa-ngapain.

Dan itu boleh.

Jadi jangan bertanya:

“Masak sendiri atau catering, mana yang paling benar?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Saat ini, apa yang paling perlu keluarga kita hemat: uang, waktu, atau tenaga?”

Kalau jawabannya sudah ketemu, biasanya pilihan makannya ikut lebih gampang.

FAQ Masak Sendiri vs Catering Harian

Lebih murah masak sendiri atau catering harian?

Jika hanya membandingkan biaya bahan dan keluarga dapat berbelanja serta memasak secara efisien, masak sendiri berpotensi lebih murah. Catering mempunyai biaya tambahan karena mencakup proses menyiapkan makanan, memasak, pengemasan, dan layanan lainnya.

Apa saja biaya masak sendiri yang sering terlupakan?

Selain bahan utama, perhitungkan bumbu, minyak, gas atau listrik, ongkos belanja, bahan yang terbuang, serta waktu untuk belanja, memasak, dan membersihkan dapur.

Apakah catering harian cocok untuk keluarga?

Cocok untuk sebagian keluarga, terutama yang mempunyai aktivitas padat, tidak selalu sempat memasak, atau ingin mengurangi pekerjaan menyiapkan makan sehari-hari.

Apakah harus catering setiap hari?

Tidak. Masak sendiri dan catering bisa dikombinasikan. Misalnya catering saat hari kerja dan masak sendiri pada akhir pekan.

Berapa harga Catering Harian Early Bird Catering?

Paket yang digunakan saat ini adalah Rp45.000 untuk 2 porsi, Rp65.000 untuk 3 porsi, dan Rp85.000 untuk 4 porsi. Harga dan ketentuan dapat berubah sehingga sebaiknya cek informasi terbaru sebelum memesan.

Bagaimana cara mengetahui mana yang lebih hemat untuk keluarga saya?

Catat seluruh biaya masak selama satu minggu beserta waktu yang digunakan. Kemudian bandingkan dengan biaya paket catering sesuai jumlah orang. Dengan begitu perbandingan berdasarkan kebiasaan keluarga sendiri, bukan angka keluarga lain.